Menikmati Kuliner di Batam

Dari Bintan ke Batam kurang dari satu jam dengan feri, satu feri berangkat tiap 15 menit dari Pelabuhan Seri Bintan Pura ke Pelabuhan Telaga Punggur. Tinggal di suatu hotel di pusat bisnis pusat kota Nagoya, aku lekas merasa kalau satu kaki telah terletak di Singapore.

Menghabiskan jam matahari terbenam di Harbour Bay Seafood Restaurant di Batu Ampar, berbatasan langsung dengan halte feri internasional ke Singapore, kita telah merasakan sebagian di Singapore, sebab atmosfer toko- toko yang menunjukkan bahasa Tiongkok lisan serta tulisan.

Dilihat dari warung makan terbuka di tepi laut, kami diguncang oleh kontras antara rumah terapung Tanjung Uma serta Pasar Sentral dengan arsitektur style lama.

Isyarat yang melaporkan” Jangan membuang sampah di laut” nampak jelas di wilayah berumput serta digantung di pagar yang memisahkan warung makan dari laut.

Di pelabuhan, Wei Wei Seafood menjorok yang sangat dekat dengan laut. Meja ini mempunyai dekat 45 meja, tiap- tiap dengan 4 sofa, serta menawarkan ikan, udang, kepiting, juice, teh tarik, kopi, air mineral, seluruhnya disajikan langsung.

Dekat jam 5 sore, dekat 30 karyawan lagi makan serta bersiap buat menerima tamu. Tetapi, hujan mulai turun, serta dalam keadaan semacam itu tidak bisa jadi menawarkan santapan panggang, sebab barbeque terletak di tempat terbuka serta memakai briket arang yang diperoleh dari pasar tradisional.

Pusat jajanan terbuka merupakan tempat yang sangat pas buat menangkap Batam bagaikan peleburan yang memperlakukan seluruh wisatawan dengan metode yang sama. Pusat jajanan dekat Lucky Plaza, misalnya, menawarkan panggung karaoke yang menunjukkan penyanyi perempuan dengan baju sedikit yang secara simbolis menyajikan lagu- lagu karaoke dangdut, pop, barat serta Mandarin, sedangkan turun di antara pemirsa.

Sebagian besar warung menawarkan santapan laut. Sebagian menyajikan bekicot hidup di cangkangnya, sehingga memanennya dari laut tidak mengganggu terumbu karang. Sotong kering merupakan kesukaan lain di banyak menu merupakan wajib dicoba, dengan mayoritas kios ataupun restoran yang menawarkannya.

Kami memilah buat berupaya 338 Life Seafood, yang bagi pemiliknya, memakai 6- 10 kilogram sotong tiap malam. Dikala kami meninggalkan pusat jajanan sehabis makan malam, pemiliknya menjumpai seluruh staf berbaris serta membungkuk, bergaya Jepang, mengucapkan” terima kasih, terima kasih”, suatu yang tidak sempat aku natural di tempat lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *